POSTPHX – Hundred Years’ War, yang berlangsung dari 1337 hingga 1453, adalah serangkaian konflik bersenjata yang mempertemukan dua kerajaan terbesar di Eropa abad pertengahan, yaitu Inggris dan Prancis. Konflik ini dipicu oleh perselisihan dinasti, klaim teritorial, dan rivalitas ekonomi, serta pertarungan untuk dominasi di benua Eropa. Perang yang berkepanjangan ini tidak hanya merupakan perang dalam skala yang besar tetapi juga mengubah wajah politik dan sosial Eropa secara mendalam.

Asal-usul Konflik:
Perang Seratus Tahun berakar pada kompleksitas hubungan feodal dan persaingan antara Kerajaan Inggris dan Kerajaan Prancis. Salah satu penyebab utama adalah klaim Edward III dari Inggris atas takhta Prancis melalui koneksi keluarga dari ibunya, yang merupakan putri raja Prancis. Selain itu, konflik atas wilayah Guyenne (Aquitaine) yang dikuasai oleh Inggris namun berada di dalam wilayah Prancis juga menambah ketegangan. Keadaan ini diperburuk oleh upaya Prancis untuk membatasi kekuasaan bangsawan Inggris di dalam wilayah mereka.

Fase Penting dalam Konflik:
Perang ini dapat dibagi dalam beberapa fase penting, yang ditandai oleh peristiwa-peristiwa besar dan pergantian momentum.

  1. Fase Awal (1337-1360): Dimulai dengan deklarasi perang oleh Edward III, fase ini melihat kemenangan-kemenangan awal Inggris dalam pertempuran seperti Sluys dan Crécy. Penggunaan busur panjang oleh tentara Inggris memberikan keunggulan signifikan.
  2. Periode Caroline (1369-1389): Setelah penandatanganan Perjanjian Brétigny yang memberikan keuntungan besar bagi Inggris, konflik memasuki periode baru di bawah kepemimpinan Charles V dari Prancis. Prancis berhasil memulihkan beberapa wilayah yang hilang.
  3. Fase Lancastrian (1415-1453): Ini adalah fase dimana Raja Henry V dari Inggris memperoleh kemenangan besar dalam Pertempuran Agincourt dan penandatanganan Perjanjian Troyes yang menjadikan Henry sebagai pewaris takhta Prancis. Namun, hal ini tidak berlangsung lama.
  4. Kemunduran Inggris dan Penutupan Perang (1429-1453): Tokoh heroik seperti Jeanne d’Arc muncul dan memberikan dorongan moral bagi pasukan Prancis. Kemenangan Prancis di Orleans dan kemudian pengusiran Inggris dari wilayah Prancis menandai berakhirnya konflik.

Dampak Perang:
Hundred Years’ War membawa perubahan besar dalam militer, politik, dan sosial. Dalam militer, perang ini menyaksikan transisi dari pasukan feodal ke tentara berdiri yang lebih profesional. Politik Prancis mengalami konsolidasi kekuasaan di bawah raja, sedangkan di Inggris, konflik internal dan ekonomi yang terkuras memicu ketegangan yang akhirnya memuncak dalam Perang Saudara yang dikenal sebagai Perang Mawar.

Dalam konteks sosial, perang mempercepat transformasi struktur feodal dan memicu nasionalisme di kedua kerajaan. Ekonomi Prancis yang hancur perlahan pulih dan membuka jalan bagi zaman Renaissance Prancis, sementara Inggris mengalami periode pergolakan yang akhirnya mengarah pada reformasi politik dan sosial.

Kesimpulan:
Perang Seratus Tahun adalah konflik yang kompleks dengan banyak dimensi yang merefleksikan persaingan, ambisi, dan pertarungan atas kekuasaan di Eropa Abad Pertengahan. Warisan perang ini tidak hanya terlihat dalam pembentukan identitas nasional di Inggris dan Prancis, tetapi juga dalam perubahan yang lebih luas yang terjadi di Eropa yang menandai akhir abad pertengahan dan awal dari zaman modern.